BELAJAR DARI NABI IBRAHIM AS (Menyibak Hakikat Keimanan dari Jejak Kaki Kekasih Allah)

26 September 2009 at 12:21 Tinggalkan komentar

“Sesungguhnya Orang-Orang Yang Sempurna Imannya Itu Adalah Mereka Yang Apabila Nama Allah Disebut Gemetarlah Hati Mereka, Dan Apabila Dibacakan Kepada Mereka Ayat-Ayat-Nya, Mereka Bertambah Iman Karenanya, Dan Kepada Tuhanlah Mereka Bertawakal.”

“Saya pikir cuma Allah yang bisa sampai pada gagasan Idul Adha,” demikian tulis Abdullah Azzam. “Begitu indah, tak terselami oleh kenistaan insani, begitu duniawi, namun toh begitu Ilahi. Kedalaman hikmahnya memaksa lutut bertekuk dalam sikap sujud. Semarak keindahannya meremukkan, melumat hati.”

Begitu sederhana, tetapi begitu berarti. Begitu surgawi, tetapi toh bukan fiksi atau fantasi (bukan khayalan). Cerita Nabi Ibrahim AS, Hajar dan Ismail, istri dan anaknya adalah fakta. Sebuah peristiwa, ketika Allah menguji hambanya. Memang perintah-Nya kadang tak tercerna nalar dan akal. Bayangkan, seorang Bapak disuruh menyembelih anaknya. Barang kali kalau saat ini, bisa dilaporkan ke Komnas HAM. Atau paling tidak, kita sendiri akan menghujatnya ramai-ramai. Bapak yang kejam! Tidak berperasaan! Bapak yang durjana! Terserah anda mau ngomong apa?

Begitu besar hikmah yang bisa diambil dari lika-liku perjalanan hidup Ibrahim. Hingga Allah memasukkannya dalam Rukun Islam yang ke-5. Yaitu kewajiban menunaikan ibadah haji bagi siapa saja yang mampu. Tidak hanya sebatas itu, kita sendiri umat Islam seantero jagat diperintahkan juga oleh Allah untuk mengenang sejarah tersebut, dengan mengumandangkan bacaan takbir dan tahmid di hari Idul Qurban dan 3 hari sesudahnya (Hari Tasyrik).

Oleh sebab itu, kita seyogyanya belajar dari Nabi Ibrahim AS. Mengapa kita harus belajar? Orang berkata, kita harus bersedia belajar seumur hidup kita, “From Womb to Tomb”, kata orang Inggris. Dari sejak dalam rahim bunda sampai di  liang lahat. Maksudnya belajar terus tanpa jera, sampai kapan saja. Bahkan, kalau perlu, “sampai ke negeri Cina”.

Menurut penulis terkenal, A. Aziz Salim Basyari, apakah yang paling khas dan menarik mengenai Nabi Ibrahim AS? Yaitu: ”Ia adalah hamba yang paling patuh terhadap perintah-perintah Allah SWT.” Ini tentu saja bisa dibuktikan dari sejarah, baik itu yang termaktub dalam kitab suci maupun dari cerita-cerita orang bijak. Mari kita telusuri satu per satu.

Pertama, ketika masih usia muda, Ibrahim telah membuktikan keteguhan hati dan keberaniannya dengan menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh penguasa dan rakyat saat itu. Ibrahim yang dibesarkan dalam rumah yang penuh berhala dan arca tidak mudah untuk terpengaruh oleh pemujaan tersebut. Dengan iman, tawakkal dan keyakinan ia tabah dibakar dengan api yang menyala-nyala. Imannya tidak mudah menjadi “abu”. Bahkan api yang berkobar menyala-nyala itu menjadi dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim AS dari siksaan masyarakat jahiliah tersebut.

Kedua, Hanya karena patuh dengan perintah Allah, Ia sanggup meninggalkan istrinya Hajar dan putera tunggalnya Ismail yang masih bayi di tempat sunyi tanpa penghuni. Di tempat yang tandus tanpa tanaman, gersang tanpa air. Yang ada hanya bekal sisa makanan dan minuman yang pasti tidak mencukupi kebutuhan mereka. Dalam kondisi kegamangan dan kekhawatiran itu, Hajar bertanya, “Apakah kami berdua di buang ditempat ini?” Ibrahim diam seribu basa. Tak ada kata yang mampu dia ucapkan. “Ya Nabi Allah, apakah ini atas perintah Allah?” Tanya Hajar kedua kalinya. Lalu Ibrahim menjawab, “Ya, ini saya lakukan adalah atas perintah Allah”. “Baiklah tinggalkan kami, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami”. Inilah potret seorang istri yang sholihah. Hanya semata-mata dia meyakini bahwa ini adalah perintah Allah, hajar mampu untuk menanggalkan rasa iba dan sayangnya pada anak. Dia ikhlas dan penuh keyakinan menerima ketekadan bulat  Ibrahim untuk meninggalkan mereka berdua. Memang, luar biasa. Tak terbayangkan, bagaimana ibu-ibu muslimah sekarang, bila mereka seperti posisi Hajar. Apakah mereka protes dan menilai bahwa apa Ibrahim telah menelantarkan istri dan anaknya? Apakah perbuatan Ibrahim bisa dikategorikan penindasan dan kekesewenang-wenangan? Atau mereka juga akan berbuat sama seperti yang Hajar lakukan. Mudah-mudahan, iya! Amin.

Ketiga, Ketika Ismail mencapai usia 12 tahun, lagi-lagi keimanan Ibrahim diuji oleh Allah. Ia diperintahkan Allah untuk menyembelih anak satu-satunya, Ismail. Dengan ungkapan yang lembut dan penuh perasaan, Ibrahim meminta tanggapan dari anaknya. “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.” (Ash-Shaaffaat 102). Sebuah adegan drama yang luar biasa. Seorang Ibrahim, sebagai simbol generasi tua, mendatangi Ismail anaknya, sebagai simbol generasi muda. Dengan penuh kasih sayang, dengan cara demokratis dan syarat kebijaksanaan. Ismail langsung menjawab, “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Inilah jawaban bagi anak yang sholeh. Sunguh tidak terbayang sama sekali, begitu sholehnya anak Hajar ini, sehingga dia rela untuk disembelih.

Cerita ini memang penuh dengan nilai-nilai mulia, keteguhan hati seorang hamba untuk selalu berpegang teguh pada iman, walaupun badai menghantam. Saking menyentuhnya, andai saja peristiwa ini terjadi saat ini, mungkin baik Ibrahim, Hajar maupun Ismail akan dianggap orang-orang gila. Tetapi tidak! Perintah Allah selalu baik dan yang terbaik untuk kebaikan manusia itu sendiri. Allah tidak kejam. Dia hanya ingin menguji kesetiaan hambanya.

Pada saat mau berlangsungnya acara penyembelihan tersebut, Iblis datang. Dia mulai menggoda Ibrahim, namun dia gagal. Kemudian Iblis ganti menggoda Hajar, istri Ibrahim. Tetapi Hajar adalah potret istri sholihah, Iblispun gagal kedua kalinya. Lantas yang terakhir, dia mencoba menggoda Ismail. Apa yang terjadi? Anak sholih tersebut tidak secuilpun terbersit keinginan dalam hatinya untuk mengiyakan bujuk rayu sang Iblis durjana.

Saudara-saudaraku sekalian. Sering kali hidup kita merasa was-was ketika mau melaksanakan sesuatu. Itulah tandanya Iblis mulai bekerja. Dia mulai menggoda, merayu dan membuat keragu-raguan dalam hati kita. Disadari atau tidak kita sering terbujuk oleh rayunya. Rayuan gombal tapi mematikan. Sampai-sampai ada seorang ulama yang menggambarkan perbedaan antara mengikut Iblis dan mengikut Allah SWT itu sebagai berikut:

Orang yang mengikut iblis itu ibarat orang yang menumpang kapal yang sedang tenggelam. Ia tak mengetahuinya, tetapi kapten kapal itu mengetahuinya.

Lalu kapten kapal itu berkata, “Para penumpang sekalian, sekarang kalian akan saya beri kebebasan sepenuh-penuhnya! Anda boleh melakukan apa saja yang anda mau. Penumpang kelas dek (paling bawah) boleh naik ke kelas satu. Anda juga boleh dansa dimana saja yang anda kehendaki. Seluruh isi lemari es dan makanan di dapur boleh anda ganyang sampai habis! Yang ingin bercengkrama dengan wanita, silahkan. Apa saja silahkan! Anda bebas.

Anda berkata dalam hati, “Nah ini dia, baru kapten yang hebat! Sungguh tidak rugi saya menumpang kapalnya! Nah, tunggu apa lagi. Mumpung ada kesempatan, genjot aja!” Ya, tapi sebentar lagi tenggelam. Sedang mengikut Allah SWT adalah hal yang berbeda. Begitu banyak rintangan dan pengorbanan, namun jelas, selamat!

Kembali ke cerita semula. Akhirnya Ismailpun berbaring tertelungkup. Pisau tajam menggores lehernya. Ah….ternyata itu bukan leher Ismail. Tetapi leher seekor domba jantan besar. Ismail selamat.

Demikianlah, Ibrahim dan Ismail telah lulus ujian  keimanan dan kepatuhan kepada Sang Khalik. Prestasi Ibrahim menjadikan dia terangkat derajatnya di sisi Allah SWT. Yaitu derajat seorang pemimpin dan kekasih Allah. “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu iman bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janjiku ini tidak mengenai orang yang zalim”. (Al-Baqarah 124).

Menelusuri jejak – jejak keimanan Ibrahim AS dan keluarganya memang asyik dan pantas disimak. Namun, sebaiknya kita tidak berhenti disitu saja. Kita mencoba untuk  berbenah hati dan berteguh hati untuk mentauladani sifat dan perilaku dari Ibrahim AS.

Pertama; Sebagai hamba Allah SWT, kita harus selalu menancapkan iman sedalam-dalamnya. Menyembah “Allah” sebagai “Allah”. Tidak menyekutukan (mempoligami) – Nya  dengan apa dan siapapun. Selalu tawakkal dan penuh keyakinan menjalani hidup dan tidak mudah berkompromi terhadap hal-hal yang itu semua bertentangan dengan syariat Tuhan. Maksud saya, boleh-boleh saja anda menghanyutkan diri untuk berkompromi, asal jangan sampai menipu diri sendiri. Sah-sah saja menyesuaikan diri, tetapi jangan sampai kehilangan pribadi, apalagi sampai melacurkan hati nurani.

Kedua, Tujuan Ibadah Haji bukan sebatas agar kita dipanggil “abah” (bukan “bah ngono bah ngene”) atau untuk mengangkat derajat diri. Sama halnya dengan orang berqurban. Mereka harus betul-betul niat tulus ikhlas dalam berqurban. Yang lebih penting lagi, penunaian ibadah Haji dan berqurban seyogyanya bisa mengangkat kita menuju derajat keimanan yang lebih tinggi lagi. Yaitu muara iman yang melahirkan jiwa-jiwa Islami yang terpancar dari lubuk hati nurani yang paling dalam. Mampu menjadi pelindung dan penyokong bagi orang-orang yang miskin, anak-anak yang tanpa ibu bapak dan janda-janda tua yang kesusahan mencari sesuap nasi. Marilah kita bersama-sama untuk menjadi Ibrahim. Sosok seorang Nabi yang tidak gentar melawan kejahiliahan dan tidak goyah keimanannya dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Semoga Allah SWT memberikan kita hidayah sehingga peringatan Idul Adha tahun ini lebih bisa menggugah rasa keimanan kita kepada-Nya. Kita bersama-sama meyakini bahwa kita dihadapan Tuhan adalah sama. Kita sederajat dan sama mulia. Tak terkecuali, siapapun dan apapun kedudukannya di dunia. Yang paling mulia disisi Allah adalah mereka yang paling bertaqwa. Orang-orang yang selalu berniat, berpikir, berkata dan berperilaku atas dasar kehendak allah swt semata. Semoga kita bisa. Amin.

Entry filed under: Setetes Embun. Tags: .

TATKALA PERINTAH IQRO’ SEKEDAR JADI HAFALAN METODE BERMAIN KONSTRUKTIF DALAM BELAJAR DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERKEMBANGAN KEAGAMAAN ANAK SEKOLAH DASAR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2009
S S R K J S M
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: