JANJI ITU SUCI, PAK!

26 September 2009 at 12:13 Tinggalkan komentar

Bangsa Indonesia telah menyelenggarakan pesta demokrasi rakyat yakni Pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat baik di tingkat daerah maupun pusat secara langsung. Tentu saja, pola dan format Pilkada yang berbeda dari sebelumnya ini, akan membawa dampak perubahan baik itu paradigma pejabat maupun rakyat. Lebih-lebih bapak bupati maupun wakil bupati terpilih. Sebelum pilkada tahun ini, bupati dan wakil bupati, hanya berpikir bagaimana dapat mendulang suara dari anggota legislatif. Namun pada pemilu kemarin, mereka berusaha se-optimal mungkin untuk memikat hati rakyat. Dan cara terbaik (the best way) untuk memikat hati rakyat adalah dengan rayuan-rayuan melalui janji politik.

Janji tersebut disenandungkan baik pada kondisi formal yaitu saat kampanye. Maupun kondisi tidak formal saat kendurenan bersama. Namun yang menjadi persoalan adalah sejauhmana ‘obral janji’ bapak bupati dan wakil bupati pada saat kampanye itu telah direalisasikan selama tiga bulan ini. Sudahkah mereka menyiapkan strategi-strategi jitu untuk membangun Mojokerto lima (5) tahun ke depan ini. Misalnya, SBY punya formula “100 hari”. Pertanyaannya adalah apakah bapak-bapak yang menjadi nomor wahid tersebut, sudah punya formula? Atau malah sebaliknya. Sudah lupa akan janji-janji tersebut. Kami sebagai rakyat kecil berharap ‘obral janji’ yang bapak senandungkan bukan hanya sekedar proforma belaka. Dimana ‘obral janji’ itu hanya sekedar degradasi kata-kata menjadi bunyi-bunyian yang tak berharga dan tanpa makna.

Ketika “sumpah” menjadi “sampah”. Dan janji tinggal janji – tak kunjung ditepati. Maka rakyat seharusnya cerdas dan awas mengantisipasi hal ini akan terjadi. Ini bukan su’udhon (negative thinking), tetapi lebih pada sikap antisipasi. Sebab kita akan kehilangan harkat ‘manusia’ kita, bila tidak mampu belajar dari sejarah yang ada. Kata the founding father, Bapak Ir. Soekarno, “Jas Merah”. Artinya “Jangan sekali-kali lupakan sejarah”. Bukankah orang bijak pernah bilang agar kita tak jatuh ke lobang yang sama lebih dari sekali? Inilah yag butuh perenungan, kajian sekaligus kesadaran.

Kembali pada sikap antisipasi terhadap fenomena “obral Janji”. Rakyat semestinya harus waspada kalau-kalau janji tersebut tidak ditepati. Tidak seperti kejadian pada  pemilu legislatif yang sebelumnya. Dimana calon legislatif saat kampanye, meneriakkan yel yel pemberdayaan. Tapi apa yang pernah mereka perdayakan selama ini. Mereka berjanji membela kepentingan rakyat. Tapi kepentingan rakyat yang mana yang pernah mereka bela. Mereka berjanji akan mengusung ‘Good Government’ di Kabupaten  Mojokerto ini. Tapi mana buktinya. Contoh kasus konkret, yang sampai hari ini, masih belum jelas penyelesaiannya. Yaitu kasus KUT (Kredit Usaha Tani). MT. 1998/1999 dan MK. 1999/2000 yang diusung oleh DPRD Bangsa Indonesia dengan membentuk Pansus (Panitia Khusus) sekedar hanya gertak sambel dan lipstik belaka. Kasus dengan sisa tunggakan  Rp. 37.441.334.180 (data : Laporan Panitia Khusus DPR II Kab. Mojokerto 2005) sampai sekarang belum jelas penyelesaiannya. Dimana suara mereka yang saat kampanye berkoar-koar membela kepentingan rakyat. Wong persoalan “sudah jelas” aja, tidak bisa tuntas.  Apalagi persoalan yang tidak jelas, so pasti amblas.

Yang menjadi PR kita semua adalah mengapa persoalan “obral janji”  tak kunjung berhenti? Dan mengapa rakyat terus bisu membungkam seribu basa, ketika janji-janji itu tidak ditepati oleh para pemimpin. Ada apa dibalik semua itu?

Menurut Eka Darmaputera, seorang Pendeta sekaligus penulis yang kerap mengkaji persoalan masyarakat dan agama, berpendapat bahwa saat ini baik rakyat maupun  pejabat kerap kali terjangkit penyakit R3, yaitu : Pertama; Roh Jalan Pintas. Untuk menggapai sebuah kekuasaan, calon pejabat tidak segan-segan lagi ‘obral janji’, meskipun dalam hati kecil, mereka tidak punya kemampuan untuk melaksanakannya.

Kedua; Roh Nekat. Nekat melakukan apa saja, demi meraih kursi kekuasaan. Hutang kesana kemari untuk biaya kampanye. Obral janji pada siapapun yang ditemuianya hanya untuk sekedar mendulang suara. Aduh, kasihan banget ini orang. Ketiga; Roh Mumpung. Mumpung ada kesempatan, embat ajalah. Belum tentu nanti ada kesempatan. Tidak tahu itu milik rakyat, yang penting sikat ajalah. Dalam otak mereka hanya terbesit bagaimana mengembalikan uang mereka yang dihabiskan selama kampanye. Masyaallah, na’udzu billahi min dzalik.

Di sisi lain, sering kita jumpai dimana jiwa rakyat kerap kali cenderung oportunis. Asal gue dapat, ya udahlah gue diam aja. Gejala pandangan hidup ini telah menyebar kemana-mana. Baik itu stakeholder maupun rakyat jela. Kajian ini, kalau kita pikir-pikir seksama, memang ada benarnya. Buktinya, kenapa rakyat saat kampanye – diundang atau tidak. Ingin saja mereka saling berusaha untuk selalu mendekat pada para calon pejabat. So pasti ingin kena ‘ciprat’, kan?. Lumayan bisa untuk beli jajan. Inilah sikap dan perilaku yang tadi saya katakan cenderung oportunis. Semestinya kalau memang rakyat sudah tahu, mbok yao rakyat tak usah mengulangi lagi. Minta–minta ke calon. Sebab kalau mereka jadi, apa iya, mereka tak mau ngentit uang rakyat. Maaf  bukan su’udhon, Bos!

Kenyataannya, disadari atau tidak, pengalaman sehari-hari selalu menunjukkan demikian. Dimana setelah mereka (para pejabat) memperoleh apa yang mereka inginkan, sesegera itu pulalah, semua atau sebagian janji-janji itu dicampakkan begitu saja. Terjurai bagai sepah (garbage). Tragisnya, walau kondisi ini hampir terjadi kerap kali, namun cuma sedikit saja yang peduli. “Janji Gombal” kian dianggap wajar dan barang lumrah. Pejabat membohongi dan rakyat suka dibohongi. Untuk itu saya sarankan kepada yang terhormat bapak bupati dan  wakil bupati terpilih. Please, Hendaknya dipikirkan dan direnungkan dulu, ‘obral janji’. Sebab janji itu adalah hutang. Kalau sudah keblabasan mengobral janji, maka berdoalah pada allah SWT. Tanamkan motivasi dan komitmen. Kuat dan mendalam. Teguh bagaikan karang  untuk melaksanakan janji-janji yang pernah terucapkan. Mengapa harus demikian?

Pertama, Kesadaran bahwa ‘bicara itu adalah perkara serius dan fatal’. Saya harap pembaca tidak terlalu terkejut dan marah, bila Saya katakan bahwa yang paling sering melanggar titah perihal janji adalah justru pejabat dan agamawan. Masak iya? Sebab orang-orang inilah yang paling banyak punya kepentingan dan paling banyak menyebut nama Tuhan! Menyebut–nyebut nama Tuhan entah berapa ratus kali dalam sehari. Tapi lain di mimbar, lain di luar. Lain ucapan, lain tindakan. Lain di depan, lain di belakang. “Sembarangan, Mr.” Perbuatan mereka sangat tidak memuliakan Tuhan, melainkan memalukan Allah SWT. Tidak memuji, melainkan mencaci.

Hari ini bukan, “Obral Janji” yang dibutuhkan rakyat, namun realisasi konkrit dari ungkapan.  Itulah yang ditunggu-tunggu oleh rakyat. Orang-orang yang sumpah atas nama Tuhan. “Demi Allah Saya berjanji……..” atau  “Demi Allah Saya bersumpah,”  yang terdengar dari mulut pejabat saat proses pelantikan, adalah janji dan atau sumpah suci. Yang bila tidak dipenuhinya, demi Allah maka kelak akan dituntut oleh rakyat. Baik itu di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak. Berbicara memang gampang. Tinggal membuka mulut.Tapi akibatnya itu lho! Lidah adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai dan penuh racun. Mematikan baik itu untuk rakyat, lebih untuk pribadi njenengan sendiri.”

Kedua, “Janji itu suci.”  Menepati janji adalah sesuatu yang sangat sentral dalam iman Islam, dan seharusnya begitu saja dalam budaya kita sebagai Bangsa Indonesia. Mengapa? Karena bentuk atau “format” hubungan antara Allah dan umat-Nya, adalah “hubungan perjanjian” atau “hubungan kontrak.” Seperti juga halnya perjanjian antara manusia dan manusia (horizontal releationship). Dalam konteks perjanjian ini, pihak yang satu punya kewajiban, sedangkan pihak yang lain punya hak secara timbal balik. Pejabat punya kewajiban mengemban amanat rakyat, sebaliknya rakyat punya kewajiban menjadi warga yang baik. Nah, wajar sekali bukan, bila “menepati janji” lalu menjadi bagaikan ‘urat nadi’ bagi kelangsungan hubungan kedua belah pihak.

Akhirnya, semoga baik pejabat maupun rakyat berupaya untuk introspeksi diri dalam menjalani hidup ini. Bila anda mau hidup dalam kehidupan yang sesungguhnya, hiduplah dalam terang. Jelas arah yang anda ikuti. Dan jelas norma yang dipegangi. Ini tidak mudah. Tetapi kita ingin bersama ‘selamat sampai tujuan’. Untuk selamat sampai di tujuan ini, kita mesti setia sepanjang perjalanan. Pejabat setia akan janji-janjinya dan rakyat setia mengingatkan pejabat, bila mereka mengingkarinya. Bila kedua belah pihak mampu bersikap demikian, Saya yakin Bangsa Indonesia ke depan akan menjadi lebih baik lagi.

Entry filed under: KAJIAN TEORI ILMU SOSIAL. Tags: .

KERANGKA TEORITIS PENYELESAIAN KONFLIK SETETES EMBUN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2009
S S R K J S M
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: