TATKALA PERINTAH IQRO’ SEKEDAR JADI HAFALAN

26 September 2009 at 12:18 Tinggalkan komentar

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq (sesuatu yang bergantung di rahim wanita). Bacalah dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al’Alaq :1-5)

Lima ayat pertama Surat Al-Alaq tersebut merupakan ayat yang pertama kali turun sebagai simbol proklamasi lahirnya agama Islam periode baginda Rasulullah Muhammad SAW.  Ada tiga hal yang dominan yang memberikan warna dan corak kebudayaan dunia pada kurun umat Muhammad yaitu: membaca (Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq), tulisan (alladzi ‘allama bil qalam), ilmu (’allamal insaana maa lam ya’lam). Hubungan antara ketiganya demikian eratnya sehingga tak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Membaca tulisan, bacaan atau literatur adalah pintu gerbang utama memasuki medan ilmu.

Ayat diatas, pertama kali membaca dan mengkajinya, saya membayangan begitu indah dan mulia ajaran ayat tersebut. Saya kira salah satu bukti kemuliaan tersebut, yaitu dimana setiap orang yang mengaku Islam dari yang berusia tua baya sampai anak muda hafal perihal ayat ini. Apalagi kata Iqra’nya. So pasti hafal luar kepala.  Namun, yang menjadi kegundahan hati saya adalah apakah perintah ayat ini hanya sekedar untuk dihafalkan? Tidak. Hafalan itu penting sebagai bukti bahwa kita mengingatnya. Tetapi mengamalkan ayat tersebut amat penting. Paling penting. Ini yang sering dilupakan orang. Banyak orang yang lalai bahwa perintah itu adalah untuk dikerjakan bukan sekedar untuk dihafalkan.

Apa jadinya bila umat Islam enggan untuk mengamalkan perintah
Allah SWT pada ayat ini. Kebodohan dan hidup terpuruk. Itulah akibat konkret akan kemalasan kita untuk Iqro’ (perintah membaca). Hati kita akan mati. Kemurnian akidah kita tergadaikan. Dan hidup kita – bukan lagi berkiblat kepada-Nya namun hidup yang bersandar dan diselimuti oleh perilaku hedonisme (mengejar kesenangan duniawi semata) dan materialisme (memandang sendi kehidupan diukur dengan materi, uang & kekuasaan). Saat itulah hidup umat islam menjadi gelap. Hidup yang meraba-raba. Tersandung-sandung. Terbentur-bentur. Hidup dalam ketidakjelasan dan ketidakpastian.

Orang Islam seharusnya tidak begitu. Ada ajaran-ajaran yang jelas dan pasti. Tahu apa yang benar dan apa yang salah. Tahu itu pahala dan itu dosa. Tahu mana yang baik dan mana yang jahat. Tahu apa yang boleh dan yang tidak boleh. Tahu batas. Dan semuanya itu hanya dapat dicapai, bila kita menjadi hamba yang gemar membaca. Iqro’ kitabullah (Al Qur’an)  & Sunnah Rasulullah. Iqra’ sejarah manusia dan Iqra’ alam semesta – yang semua itu merupakan ayat-ayat ilahiyah & kauniyah.

Untuk lebih menyadarkan akan kelalaian kita selama ini, yang enggan untuk Iqra’, mari kita telusuri fenomena masyarakat jahiliah sebelum turunnya Agama Islam. A. Azis Salim Basyarahil menjelaskan bahwa kondisi masyarakat  saat itu tidak ada yang menyembah Allah yang satu Esa. Ada yang kita sebut Manuisme yaitu ber-Tuhan dua, Tuhan kebajikan dan Tuhan kejahatan. Polytheisme, ber-Tuhan banyak tanpa batas. Animisme, bahwa tiap makhluk (benda) punya roh. Heneteisme, menganggap tiap yang besar itu Tuhan, sehingga matahari, bulan, gunung, dan sungai diyakini sebagai Tuhan. Brahmanisme, mengakui Trimurti, Brahma pencipta, Wisnu pemelihara, Siwa Tuhan perusak dan Dewi Sri Tuhan padi. Begitu juga yang terjadi pada Kafir Quraisy. Mereka mengaku penganut agama Ibrahim dan Ismail, tetapi ibadahnya memuja ratusan berhala dan patung.

Kesesatan-kesesatan inilah, yang kemudian Islam diturunkan sebagai agama rahmatan lil ‘alamin sekaligus agama yang meyakini bahwa Sang Maha Pencipta itu Esa yaitu Allah SWT. Namun, keyakinan itu bukan serta merta diikuti oleh umat pada saat itu. Untuk itulah kemudian Allah SWT melalui malaikat Jibril menurunkan wahyu pertama kepada nabi Muhammad SAW perintah kepada seluruh manusia untuk Iqra’ (membaca). Sebab hanya melalui Iqra’ sajalah, manusia akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman. Lalu merenungi hidupnya. Dan harapannya adalah terciptanya manusia yang mengamalkan perlikau-perilaku mereka, baik itu pola pikir, pola dzikir dan pola amal, sesuai dengan ajaran Kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah Rosulullah SAW.

Berbeda dengan kondisi umat Islam saat ini. Umat Islam yang jauh dari nilai-nilai keislamannya. Umat yang suka menghalalkan barang haram dan mengharamkan yang halal. Mengikuti syahwat dan condong hawa nafsu. Menyia-nyiakan amanat. Main suap meraja lela. Maraknya penguasa dzalim. Orang kafir dan dzalim terhormat. Sedang orang beriman dan bertaqwa semakin terhina. Dusta meningkat. Pengusaha dan pedagang penghianat. Dan yang lebih parah lagi adalah menjual agama untuk kepentingan duniawi. Bukankah semua ini pertanda hari kiamat sudah dekat? Semua dari nurani kita – pasti menjawab “IYA”. Sebab keterangan itu merupakan nasehat Rasulullah SAW, ketika berhaji Wada’. Atau anda tidak tahu?

Saudara-saudaraku kaum muslimin dimanapun berada. Banyak hal yang perlu kita kaji (Iqra’) kembali. Sebab melalui kegiatan mengkaji (mengaji) inilah, kita dapat membenahi diri kita masing-masing. Mari kita menengok sebentar bagaimana pola hidup dan perilaku umat di zaman sekarang ini. Pertama; Perilaku umat Islam di era modern ini sering terjebak pada perilaku ‘idolatri’. Yaitu ‘Menuhankan Berhala dan Memberhalakan Tuhan’. Menuhankan berhala adalah memperlakukan alat sebagai tujuan. Making means into ends. Benda yang awal mulanya untuk tujuan baik, dimaksudkan untuk beribadah membantu manusia merasa dekat dengan Allah SWT. Lambat laun berubah fungsi dan posisi menjadi Tuhan itu sendiri. Kita menjadi penyembah uang, hamba kekuasaan dan hamba nafsu. Perbuatan ídolatri’ juga dapat difahami sebagai perilaku yang menukar pribadi dengan materi.  Kebenaran, nurani dan kepribadian telah ditukar dengan embel-embel kesenangan sesaat oleh bujuk rayu setan. Pantaskah bila kita hari ini disebut jahiliah?

Kemudian, memberhalakan Tuhan artinya manusia menyembah Tuhan, tetapi Tuhan dalam pengertian tertentu. TUHAN MAGIC. Tuhan disembah dan dipuja-puja, tapi ujung-ujungnya untuk melayani manusia. Berdoa dengan sederet daftar isian belanja dan keinginan. Ini adalah kharakteristik utama. Bila mendapatkan kenikmatan, kita ingat Allah SWT. Namun, bila kena musibah, kita melupakan-Nya. Dimanakah keberadaan Allah SWT di mata anda?

Selain perilaku ‘idolatri’, umat Islam sering terjangkit gaya beragama ‘henoteisme’. Gaya beragama yang menganggap kekuatan dan kedaulatan “Allah individual’ ini amat besar namun terbatas. Implikasi pada pola pikir ‘henoteisme’ adalah pandangan hidup yang tidak menyeluruh. Melihat, memahami dan menata kehidupan terkotak-kotak dan terbagi-bagi. Dimana setiap kotak memiliki otoritas dan otonomi sendiri-sendiri. Dan antar kotak tidak boleh ada intervensi, apalagi dominasi. Sayangnya tidak ada koordinasi. Dampak praktisnya, bahwa gaya beragama seperti ini menganggap urusan politik atau ekonomi atau agama atau budaya dipandang sebagai zona kehidupan yang masing-masing berdiri sendiri. Agama tidak ada relevansinya lagi dengan urusan bisnis apalagi politik. Sehingga tak jarang dijumpai, seorang koruptor yang aktif beribadah dan seorang ahli agama yang melakukan praktek rentenir. Masyaallah…

Untuk itulah, kita umat Islam, bila mau hidup dalam kehidupan yang sesunggahnya, hiduplah dalam terang oleh cahaya illahi. Jelas arah yang anda ikuti. Jelas ajaran yang anda pegangi. Arah dan ajaran yang ditentukan Allah SWT sendiri. Itu tidak mudah. Juga tidak semua yang kita ingini akan kita peroleh. Tetapi butuh pengorbanan. Dan awal kali pengorbanan kita adalah mau giat untuk membaca/mengkaji (Iqra’). Kemudian dikuti keteguhan hati untuk mengamalkannya. Ibrahim bin Ad-ham ditanya, “Mengapa doa-doa kita tidak terkabul sedang Allah berfirman: “Berdoalah kepada Ku niscaya Aku   kabulkan doamu””. Ibrahim in Ad-ham menjawab; “Karena hatimu telah mati”. “Apa yang menyebabkan hati kita mati?” Salah satunya adalah kamu membaca dan menghafalkan Al-Qur’an tetapi tidak melaksanakan perintah-Nya.

Jelas saudaraku sekalian. Dari awal saya sampaikan bahwa perintah Iqra’ tidak cukup sekedar dihafalkan. Namun yang paling penting lagi adalah diejawantahkan. Semoga kita menjadi hamba yang gemar membaca. Karena hanya dengan membacalah,  kita tahu mana jalan yang terang dan mana jalan yang gelap. Allah SWT akan selalu memberkati hamba-hamba  yang ingin mendekatinya. Hamba yang gemar membaca. Karena hanya melalui ‘Iqra’ sajalah, kita mampu menjadi mukmin yang dapat memilah–milah, lalu memilih jalan yang benar disisi Allah SWT.  Amin.

Entry filed under: Setetes Embun. Tags: .

SETETES EMBUN BELAJAR DARI NABI IBRAHIM AS (Menyibak Hakikat Keimanan dari Jejak Kaki Kekasih Allah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Kalender

September 2009
S S R K J S M
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Most Recent Posts


%d blogger menyukai ini: